Loading...
Kamis, 23 Mei 2013

Keajaiban Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Modern



Benar kiranya jika Al Qur’an disebut sebagai mukjizat. Bagaimana tidak, 
ternyata ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan di abad ke 7 masehi di mana ilmu 
pengetahuan belum berkembang (saat itu orang mengira bumi itu rata dan matahari 
mengelilingi bumi), sesuai dengan ilmu pengetahuan modern yang baru-baru ini 
ditemukan oleh manusia.

Sebagai contoh ayat di bawah:

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi 
itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara 
keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah 
mereka tiada juga beriman?” [Al Anbiyaa:30]

Saat itu orang tidak ada yang tahu bahwa langit dan bumi itu awalnya satu. 
Ternyata ilmu pengetahuan modern seperti teori Big Bang dan teori ilmiyah 
lainnya menyatakan bahwa alam semesta (bumi dan langit) itu dulunya satu. 
Kemudian akhirnya pecah menjadi sekarang ini.

Kemudian ternyata benar segala yang bernyawa, termasuk tumbuhan bersel satu 
pasti mengandung air dan juga membutuhkan air. Keberadaan air adalah satu 
indikasi adanya kehidupan di suatu planet. Tanpa air, mustahil ada kehidupan. 
Inilah satu kebenaran ayat Al Qur’an.

Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa 
masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. 
Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 
21:33)

Matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha 
Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:38)

Langit yang mengembang (Expanding Universe)
Dalam Al Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih 
terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini:

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami 
benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47)

Menurut Al Qur’an langit diluaskan/mengembang. Dan inilah kesimpulan yang 
dicapai ilmu pengetahuan masa kini.

Menurut Stephen Hawkings dengan teori Big Bang, sejak terjadinya peristiwa Big 
Bang, alam semesta telah mengembang secara terus-menerus dengan kecepatan maha 
dahsyat. Teori lain seperti Inflationary juga berpendapat jagad raya terus 
berkembang. Para ilmuwan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan 
permukaan balon yang sedang ditiup.

Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia 
ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak 
dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan 
yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta 
sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus “mengembang”.

Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi 
Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam 
semesta senantiasa bergerak dan mengembang.

Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. 
Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom 
Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling 
menjauhi.

Gunung yang Bergerak
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal 
ia berjalan sebagai jalannya awan.” [QS 27:88]

14 abad lampau seluruh manusia menyangka gunung itu diam tidak bergerak. Namun 
dalam Al Qur’an disebutkan gunung itu bergerak.

Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka 
berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih 
rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang 
ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada 
permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke 
arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, 
yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener 
dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu 
seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan 
yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang 
masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua 
raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan 
India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika 
Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana 
dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada 
permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. 
Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah 
daratan dan lautan di Bumi.

Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan 
di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:

Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi 
atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan 
beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, 
lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar 
lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm 
per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan 
menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, 
misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, 
Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, 
Massachusetts, 1985, s. 30)

Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut 
Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan 
awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau 
“gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, 
Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)

Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta 
ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan 
dalam Al Qur’an.

Ada lagi tafsir yang menyatakan bahwa bumi bergerak laksana awan itu adalah 
bumi kita bergerak. Tidak diam sebagaimana sangkaan orang dulu dan juga kita 
saat ini sebelum kita dapat pencerahan oleh guru-guru kita. Ternyata bumi 
bergerak. Baik karena berputar di porosnya (Rotasi) dan juga karena 
mengelilingi Matahari (Revolusi). Bersama-sama Matahari, bumi juga bergerak 
mengelilingi jagad raya ini.

Angin yang Mengawinkan Tumbuhan
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari 
langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu 
yang menyimpannya.” (Al Qur’an, 15:22)

Konsep Angin mengawinkan tumbuh-tumbuhan dengan menyebar serbuk sari belum 
dikenal orang-orang pada abat ke 7 Masehi. Baru diketahui abad-abad terakhir 
ini saja. Meski demikian, Allah telah menjelaskan itu lewat Al Qur’an!

Ramalan Kemenangan Romawi atas Persia
“Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan 
mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi 
Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang).” (Al Qur’an, 30:1-4)

Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun 
setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika 
Bizantium kehilangan Yerusalem. Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa 
Bizantium dalam waktu dekat menang. Padahal, Bizantium waktu itu telah 
menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk 
mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali. 
Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard menjadi 
ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium. Bangsa Avar telah datang hingga 
mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius, telah 
memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan 
dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang. Banyak gubernur memberontak 
melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran tersebut berada pada titik 
keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang
 semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia. (Warren Treadgold, 
A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, 
s. 287-299.)

Diselamatkannya Jasad Fir’aun
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran 
bagi orang-orang yang datang sesudahmu” [QS 10:92]

Maurice Bucaille dulunya adalah peneliti mumi Fir’aun di Mesir. Pada mumi 
Ramses II Dia menemukan keganjilan, yaitu kandungan garam yang sangat tinggi 
pada tubuhnya.  Dia baru kemudian menemukan jawabannya di Al-Quran, ternyata 
Ramses II ini adalah Firaun yang dulu ditenggelamkan oleh Allah swt ketika 
sedang mengejar Nabi Musa as.

Injil & Taurat hanya menyebutkan bahwa Ramses II tenggelam; tetapi hanya 
Al-Quran yang kemudian menyatakan bahwa mayatnya diselamatkan oleh Allah swt, 
sehingga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Perhatikan bahwa Nabi Muhammad saw hidup 3000 tahun setelah kejadian tersebut, 
dan tidak ada cara informasi tersebut (selamatnya mayat Ramses II) dapat 
ditemukan beliau (karena di Injil & Taurat pun tidak disebut). Makam Fir’aun, 
Piramid, yang tertimbun tanah baru ditemukan oleh arkeolog Giovanni Battista 
Belzoni tahun 1817.Namun Al-Quran bisa menyebutkannya karena memang firman 
Allah swt (bukan buatan Nabi Muhammad saw).

Segala Sesuatu diciptakan Berpasang-pasangan

Al Qur’an yang berulang-ulang menyebut adanya pasangan dalam alam 
tumbuh-tumbuhan, juga menyebut adanya pasangan dalam rangka yang lebih umum, 
dan dengan batas-batas yang tidak ditentukan.

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari 
apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang 
mereka tidak ketahui.” [Yaa Siin 36:36]

Kita dapat mengadakan hipotesa sebanyak-banyaknya mengenai arti hal-hal yang 
manusia tidak mengetahui pada zaman Nabi Muhammad. Hal-hal yang manusia tidak 
mengetahui itu termasuk di dalamnya susunan atau fungsi yang berpasangan baik 
dalam benda yang paling kecil atau benda yang paling besar, baik dalam benda 
mati atau dalam benda hidup. Yang penting adalah untuk mengingat pemikiran yang 
dijelaskan dalam ayat itu secara rambang dan untuk mengetahui bahwa kita tidak 
menemukan pertentangan dengan Sains masa ini.

Meskipun gagasan tentang “pasangan” umumnya bermakna laki-laki dan perempuan, 
atau jantan dan betina, ungkapan “maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” 
dalam ayat di atas memiliki cakupan yang lebih luas. Kini, cakupan makna lain 
dari ayat tersebut telah terungkap. Ilmuwan Inggris, Paul Dirac, yang 
menyatakan bahwa materi diciptakan secara berpasangan, dianugerahi Hadiah Nobel 
di bidang fisika pada tahun 1933. Penemuan ini, yang disebut “parité”, 
menyatakan bahwa materi berpasangan dengan lawan jenisnya: anti-materi. 
Anti-materi memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan materi. Misalnya, 
berbeda dengan materi, elektron anti-materi bermuatan positif, dan protonnya 
bermuatan negatif. Fakta ini dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana 
berikut:

“…setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan … dan 
hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan 
pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat.”

Semua ini menunjukkan bahwa unsur besi tidak terbentuk di Bumi, melainkan 
dibawa oleh meteor-meteor melalui letupan bintang-bintang di luar angkasa, dan 
kemudian “dikirim ke bumi”, persis sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. 
Jelas bahwa fakta ini tak mungkin diketahui secara ilmiah pada abad ke-7, di 
saat Al Qur’an diturunkan.

Tulisan di atas hanyalah sebagian kecil dari keajaiban Al Qur’an yang ada dan 
ternyata sesuai dengan ilmu pengetahuan modern.

Jelas Al Qur’an itu benar dan tak ada keraguan di dalamnya.

”Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang 
bertaqwa” [Al Baqarah:2]

Jika agama lain bisa punya lebih dari 4 versi kitab suci yang berbeda satu 
dengan lainnya, maka Al Qur’an hanya ada satu dan tak ada pertentangan di 
dalamnya:

”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu 
bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di 
dalamnya.” [An Nisaa’:82]

Al Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang bisa dihafal jutaan manusia 
(Hafidz/penghafal Al Qur’an) sehingga keaslian/kesuciannya selalu terjaga.

daarut-tauhiid

0 komentar:

Posting Komentar

 
TOP